Alasan Saya Memilih Sepeda Motor Listrik

 





Salam Hangat, Kawan-kawan.


Kurang lebih hampir dua tahun saya tidak memiliki sepeda motor sendiri sejak satu-satunya motor yang saya miliki, sebuah Honda Vario 125 tahun 2013 warna putih, hilang dicuri saat saya sedang menginap di sebuah pondok tahfidz di daerah Cisarua, Bogor.

Meskipun kehilangan motor tentu bukan pengalaman yang menyenangkan, saya termasuk orang yang beruntung karena memiliki teman yang sangat baik hati. Teman semasa kuliah dulu menawarkan motor lamanya untuk saya gunakan. Motor itu adalah Honda Supra Fit tahun 2007 yang sudah cukup lama menganggur. Tapi ada satu catatan kecil: pajaknya mati selama 18 tahun!

Namun tak apalah. Dibanding harus repot mencari kendaraan lain, saya menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Bahkan sampai sekarang saya masih ingat ucapannya,

"Pakai aja sampai elu punya motor lagi."

Betapa baik hatinya dia.

Selama lebih dari setahun, motor tua itu menjadi teman setia mobilitas harian saya. Meski usianya sudah tidak muda, performanya masih cukup baik untuk kebutuhan dalam kota. Tidak kencang-kencang amat, tetapi cukup dan bisa diandalkan.

Setelah menikah pada Desember 2025, saya dan istri masih menggunakan motor pinjaman. Kadang menggunakan Supra Fit milik teman saya, kadang menggunakan Supra X 125 peninggalan almarhum ayah mertua saya.

Sampai akhirnya suatu hari istri bertanya,

"Bang, kapan mau beli motor lagi? Nggak enak lho minjem-minjem terus."

Sebenarnya pertanyaan itu sudah lama berputar di kepala saya. Saya juga ingin punya kendaraan sendiri lagi. Hanya saja saat itu kondisi keuangan belum memungkinkan untuk membeli motor baru.


Kenapa Motor Listrik?

Di tengah berbagai pertimbangan, saya mulai melirik sepeda motor listrik untuk kebutuhan mobilitas harian. Awalnya istri cukup ragu. Wajar saja, kekhawatiran utamanya adalah jarak tempuh yang terbatas dan waktu pengecasan yang cukup lama dibanding mengisi bensin. Namun saya punya beberapa pertimbangan lain.

1. Biaya Operasional Jauh Lebih Murah

Setiap hari saya menempuh perjalanan sekitar 40 kilometer untuk berangkat dan pulang kerja.

Jika menggunakan motor bensin dengan konsumsi rata-rata sekitar 45 km/liter, maka kebutuhan bensin saya kurang lebih 0,9 liter per hari.

Dengan harga Pertalite sekitar Rp10.000 per liter, biaya harian saya sekitar Rp9.000 atau sekitar Rp270.000 per bulan (30 hari).

Jika menggunakan Pertamax dengan harga Rp16.250 per liter, biaya harian saya sekitar Rp14.625 atau sekitar Rp438.750 per bulan.

Sementara itu, motor listrik dengan konsumsi energi sekitar 3 kWh untuk menempuh 100 kilometer hanya membutuhkan sekitar 1,2 kWh untuk perjalanan 40 kilometer.

Dengan tarif listrik rumah tangga sekitar Rp1.700 per kWh, biaya perjalanan saya hanya sekitar Rp2.040 per hari atau sekitar Rp61.200 per bulan.

Jika dibandingkan dengan Pertamax, penghematan yang saya dapatkan bisa mencapai sekitar Rp377.550 per bulan. Dalam setahun, angka tersebut bisa mencapai lebih dari Rp4,5 juta.

Perbedaannya cukup signifikan.

2. Harga BBM Cenderung Terus Naik

Saya tidak tahu bagaimana harga BBM beberapa tahun ke depan, tetapi melihat tren yang ada, kecil kemungkinan harga bahan bakar akan semakin murah. Artinya biaya mobilitas harian juga berpotensi semakin besar.

3. Tidak Perlu Antre di SPBU

Ini mungkin terdengar sepele, tetapi bagi saya cukup penting. Saya sudah cukup lelah harus mampir ke SPBU dan ikut mengantre hanya untuk mengisi bensin. Dengan motor listrik, saya cukup mencolokkan charger di rumah pada malam hari. Keesokan paginya motor sudah siap digunakan kembali. Praktis.


Pilihan Jatuh pada Polytron Fox-R

Setelah cukup banyak mencari informasi, pilihan saya akhirnya jatuh pada Polytron Fox-R.

Motor ini memiliki jarak tempuh sekitar 100 kilometer dalam kondisi baterai penuh, bodinya cukup besar, joknya lebar, dan pijakan kakinya luas sehingga nyaman digunakan. Satu hal yang cukup unik adalah skema sewa baterai yang diterapkan Polytron.

Saat tulisan ini dibuat, biaya sewanya sekitar Rp200.000 per bulan. Sebagai gantinya, pengguna mendapatkan jaminan penggantian apabila baterai mengalami kerusakan. Bagi saya ini cukup adil.

Bagaimanapun juga, baterai adalah komponen paling mahal dalam kendaraan listrik. Dengan adanya skema sewa ini, risiko kerusakan baterai tidak sepenuhnya ditanggung pengguna.


Berburu Motor Bekas

Masalah berikutnya adalah soal anggaran. Jujur saja, budget saya belum cukup untuk membeli unit baru. Maka dengan sikap realistis, saya memutuskan untuk mencari unit bekas yang masih layak pakai.

Dimulailah perburuan motor listrik. Saya menyisir Marketplace Facebook dan OLX. Halaman demi halaman saya buka. Satu per satu iklan saya baca dengan teliti. Sampai akhirnya saya menemukan sebuah iklan Polytron Fox-R dengan harga yang cukup masuk akal dan kondisi yang menurut saya masih 98% mulus.

Saya segera menghubungi penjualnya. Setelah beberapa kali bertukar pesan, kami sepakat untuk melakukan COD di rumahnya di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. Pada hari Minggu, 5 April 2026, saya berangkat menuju Halte Transjakarta Manggarai dan dijemput oleh penjual.

Kesan pertama saya terhadap motor listrik ini cukup meyakinkan. Memang ada sedikit kendala pada throttle yang terkadang terasa delay saat digas, tetapi menurut saya itu bukan masalah besar karena bisa diatasi dengan mengganti komponen throttle baru.

Setelah melakukan test ride, memeriksa kondisi kendaraan, dan mengecek kelengkapan surat-suratnya, akhirnya saya memutuskan untuk membeli motor tersebut. Sempat ada sedikit hambatan karena BPKB masih berada di leasing dan perlu diambil terlebih dahulu oleh pemilik sebelumnya. Namun Alhamdulillah, urusan itu selesai dalam waktu sekitar satu minggu setelah transaksi.


Setelah Tiga Bulan Pemakaian

Kini hampir tiga bulan sejak motor itu saya gunakan. Sejauh ini saya sangat menikmatinya. Tarikannya responsif, tersedia mode santai maupun sport, dan akselerasinya terasa halus karena tidak ada perpindahan gigi maupun getaran mesin seperti motor bensin.

Untuk kebutuhan harian, motor ini benar-benar memenuhi ekspektasi saya. Tentu saja saya tidak sedang mempromosikan merek tertentu. Saya hanya ingin berbagi pengalaman dan sudut pandang sebagai pengguna motor listrik sehari-hari.


Apakah Motor Listrik Cocok untuk Semua Orang?

Menurut saya, belum tentu. Motor listrik sangat cocok untuk mobilitas harian dalam kota yang jaraknya relatif dekat dan rutin. Namun untuk perjalanan jarak jauh, motor bensin masih memiliki keunggulan yang sulit ditandingi.

Bayangkan jika dalam perjalanan jauh kita harus menunggu beberapa jam hanya untuk mengisi daya baterai. Belum lagi harus mencari lokasi SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum).

Kalau lokasi SPKLU berada di jalur perjalanan tentu tidak masalah. Tapi bagaimana jika lokasinya tidak searah?

Kita harus memutar rute hanya untuk melakukan pengecasan. Karena itu, menurut saya kondisi yang ideal adalah satu keluarga memiliki dua jenis kendaraan:

  • Kendaraan listrik untuk mobilitas harian.
  • Kendaraan bensin untuk perjalanan jarak jauh.

Tentu saja jika kondisi keuangan memungkinkan. Jika belum memungkinkan dan hanya bisa memiliki satu kendaraan, maka motor bensin masih menjadi pilihan paling fleksibel karena dapat digunakan untuk kebutuhan harian maupun perjalanan jauh.


Penutup

Pada akhirnya, keputusan membeli motor listrik bukan sekadar mengikuti tren. Bagi saya, ini adalah keputusan yang lahir dari kebutuhan sehari-hari, perhitungan biaya operasional, dan kenyamanan penggunaan.

Apakah suatu hari nanti saya akan kembali membeli motor bensin? Tentu Saja, toh di rumah masih terparkir Supra X 125 peninggalan almarhum Ayah Mertua saya yang digunakan sehari-hari oleh istri.

Namun untuk saat ini, motor listrik sudah menjadi solusi yang sangat membantu mobilitas harian saya. Semoga pengalaman sederhana ini bisa menjadi bahan pertimbangan dan inspirasi bagi kawan-kawan yang sedang mempertimbangkan untuk beralih ke kendaraan listrik.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir.



Salam Hangat,


 

Komentar