Magetan: Sebuah Perjalanan, Sebuah Cerita (Bag.1)

 

gapura kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Salam Hangat,

Di awal-awal pernikahan aku kerap menuturkan kepada istriku tentang kampung halaman ayah. Tentang langitnya yang lebih biru dari langit bekasi, tentang jalan-jalannya yang lenggang tanpa macet, tentang pemandangan persawahan dan perkebunan yang hijau menyejukkan mata, tentang rumah-rumahnya yang masih mempertahankan ciri khas arsitektur rumah jawa, seakan menolak lupa pada akar budaya. Tentang Telaga Sarangan yang aura sejuknya menyerupai negeri jauh di seberang, tentang sate kelinci yang belum pernah ia cicipi. Dan kampung halaman ayah itu bernama Magetan, Jawa Timur.

Maka, bak gayung bersambut, ndilalah kalau kata orang jawa. Aku mendapatkan project freelance yang nilai honornya cukup untuk membiayai perjalanan kami. Libur panjang memang tak tersedia, hanya sepotong waktu di awal Mei, Jumat, 1 Mei 2026, berlanjut Sabtu dan Minggu. Sebentar, tapi cukup untuk melarikan diri dari layar monitor, meski hanya sejenak.

Planning kami sebenarnya sudah lama tersusun, tapi akhirnya aku putuskan untuk berangkat kamis malam jum’at sepulang aku bekerja. H-2 kukerjakan buru-buru berburu tiket bus malam, agen demi agen kutelusuri. Semuanya penuh untuk dua buah kursi yang kukehendaki. Ada rasa kesal, tapi juga tantangan kecil yang mengasyikkan.


Tak mau menyerah, ke agen terakhir aku melangkah dengan sisa harap. Entah bagaimana, jodoh dan rezeki berpihak, aku mendapat dua kursi, meski dengan harga lebih mahal. Aku membeli tiket bus dari PO Narendra double decker, dek atas untuk kelas eksekutif. Lumayan untuk rasa sedikit mewah di perjalanan.

Namun semesta punya cara bercanda, di hari keberangkatan, sepulang kerja aku meriang, demam ringan dan batuk terasa mengganggu. Ada godaan kuat untuk membatalkan. Tapi istriku sudah menyiapkan koper rapi, pakaian dan segala keperluan sudah ia kemas di dalam koper perjalanan. Duh ada-ada saja. Melihat itu aku ingat, liburan ini bukan hanya buatku tetapi juga untuk kami berdua.


Akhirnya aku memaksakan keberangkatan. Tiket sudah dibayar, kesempatan libur selanjutnya masih jauh. Aku pikir, istirahat di perjalanan dan memastikan tubuh cukup istirahat nanti lebih masuk akal dibanding membiarkan tiket hangus. Jadi kami berangkat meski aku masih meriang.


Letak agen bus dan tempat tinggal kami tak begitu jauh jika ditempuh dengan sepeda motor, hanya karena kami mau naik kendaraan bus, ya kami jalan kaki ke Agen. Keringat bercucuran deras sesampainya di agen bus. Syukurnya bus datang telat, istri masih sempat pijit-pijit kecil dan memintaku untuk minum jamu refuse wind.

Pucuk dicinta ulampun tiba, bus yang kami nanti-nanti akhirnya tiba setelah 1,5 jam delay. “Udah kayak pesawat aja delay.” Gumamku dalam hati.

Kesan pertama kami saat melihat busnya, desain livery-nya sungguh apik dan futuristik, dan saat kami memasuki interiornya sungguh nampak mewah. Alasnya menggunakan karpet berbulu, jok kulit sintetis yang nyaman. Rasanya seperti naik transportasi berkelas, membuat perjalanan malam yang panjang terasa lebih tertata.


interior bus Narendra

Maka berangkatlah kami malam itu sekitar pukul 20.00 lebih sedikit. Setelah 3 jam perjalanan, tepatnya pukul 00.00 bus terhenti lama di depan gerbang tol sekitar Cikampek, sebabnya AC bus mati! Setelah kru bus menyampaikan permohonan maaf kepada penumpang akhirnya bus lanjut perjalanan ke tujuan. Drama kecil tapi menguji kesabaran. Setelahnya Anda bisa bayangkan, 7 perjalanan di dalam bus tanpa AC? Gerah!

Pagi hari pukul 07.00 kami tiba di terminal Maospati, Magetan, Jawa Timur. Setibanya di terminal kami langsung menunaikan salat shubuh yang tertunda, entah kenapa jarang sekali aku jumpai bus AKAP jurusan ke jawa yang berhenti untuk memberi jeda eksplisit kepada penumpang muslim menunaikan salat subuh. Setelah turun, kami segera menunaikan salat Subuh yang tertunda.

Aku langsung meluncur ke tempat penyewaan sepeda motor yang saat dalam perjalanan di bus sudah lebih dulu aku booking, perlu gercep mengingat ini merupakan trip dua insan suami istri yang ingin sat-set ke destinasi yang diinginkan. Setibanya di tempat penyewaan motor, aku langsung meluncur menjemput istri yang menunggu di mushola terminal.

Mengendarai motor menyusuri pedesaan memberi sensasi berbeda dari rutinitas kota. Aku yang sehari-hari bekerja sebagai desainer grafis sering terpaku pada layar, kini disuguhkan warna-warna alami yang menenangkan mata. Aku sengaja tak membawa laptop, ini liburan betulan, tanpa godaan bekerja.

Selama perjalanan, ide-ide desain tetap muncul, sebuah kebiasaan yang sulit dihilangkan. Namun kali ini aku hanya ingin menikmati liburan tanpa mengorbankan momen bersama istri. Aku sempat merenung. Betapa perjalanan ini mirip dengan proses kreatifku sebagai desainer grafis. Ada rencana, ada hambatan, ada improvisasi, dan akhirnya ada hasil yang bisa dinikmati. Sama halnya dengan project jasa desain grafis yang sering Aku kerjakan, kadang revisi datang mendadak, kadang ide harus dipaksa keluar.

Keputusan tak membawa laptop terasa tepat. Tanpa layar, obrolan kami lebih panjang dan ringan, lebih banyak tertawa dan menikmati pemandangan. Istri tampak lebih rileks, aku pun merasa kreatifitas mengalir berbeda, lebih lambat, lebih reflektif. Dan liburan bisa menumbuhkan ide-ide secara organik saat menikmati suasana.

Petualangan singkat ini mengingatkanku bahwa sebagai penyedia jasa desain grafis dan editor AI, keseimbangan antara kerja dan istirahat penting. Liburan tanpa laptop bukan berarti memutuskan kreativitas, melainkan memberi ruang agar gagasan-gagasan lebih matang. Dan petualangan kamipun dimulai.


Bersambung...

Komentar

  1. Tulisan ringan yang menyegarkan untuk dibaca disela-sela kesibukan malam hari, lanjuuutkan...

    BalasHapus

Posting Komentar