Menepi Sejenak di Stasiun Ciomas: Sebuah Solo Touring Kecil untuk Menemukan Ketenangan

 


Salam Hangat Kawan-kawan,


Ada masa ketika seseorang ingin berhenti sebentar dari riuhnya rutinitas. Bukan karena lelah ingin menyerah, tetapi sekadar ingin memberi ruang bagi diri sendiri untuk kembali bernapas.


Di tepian akhir masa pengabdianku di kantor tempat aku bekerja sebagai seorang desainer grafis, aku memutuskan untuk kembali membuka hobi lama yang sempat tersimpan cukup lama; solo touring.



Sebuah kebiasaan yang dulu cukup sering kulakukan ketika masih sendiri, menjelajah jalanan tanpa banyak rencana, menikmati suasana, dan membiarkan perjalanan membawa cerita dengan sendirinya.


Sebagai seorang desainer grafis, keseharianku memang lebih banyak berkutat dengan layar, warna, bentuk, dan berbagai macam detail visual untuk menghasilkan sebuah karya. 


Namun terkadang, ada rasa rindu untuk melihat dunia secara langsung, mencari inspirasi bukan dari layar monitor, melainkan dari jalanan, alam, dan suasana yang ditemui sepanjang perjalanan.


Menyegarkan jiwa sekaligus re-call sensasi solo touring yang sebelum menikah kerap aku lakukan. Toh hari sebelumnya istriku sudah aku ajak touring kecil ke Bogor Kota, hehehe.

 

Berbekal izin istri, maka aku memulai penjelajahan kecil ini di atas sepeda motor listrikku, Polytron Fox R. Maka ditemani kendaraanku, meluncurlah aku ke sana pukul 09.30.


Dunia desain grafis membuat keseharianku akrab dengan layar, warna, bentuk, dan detail-detail visual. Hari-hari kuhabiskan merangkai ide menjadi karya, menyusun komposisi, mencari keseimbangan antara estetika dan pesan.

 

Namun terkadang, di balik meja kerja dan cahaya monitor, ada sisi lain dari diri yang ingin melihat dunia secara langsung—melihat warna alam, merasakan udara perjalanan, dan menemukan inspirasi dari jalanan. Tujuanku jelas; Stasiun Ciomas.


Mencari Jejak di Balik Jalur Bogor–Sukabumi

Secara administratif stasiun ini berada di Kelurahan Kertamaya, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat. Stasiun ini berada di jalur kereta Bogor–Sukabumi, di antara Stasiun Batutulis dan Stasiun Maseng.

 

Yang menarik, meskipun namanya Ciomas, lokasinya justru tidak berada di pusat Kecamatan Ciomas saat ini. Nama tersebut merupakan jejak sejarah kawasan perkebunan Ciomas pada masa kolonial.



Sebelum sampai ke sana, aku sempat berhenti sejenak untuk beristirahat dan melaksanakan salat dzuhur di sebuah masjid pinggir jalan yang tidak jauh dari kawasan Batutulis. Sayangnya, akses langsung menuju kawasan stasiun sedang ditutup. Mau tidak mau aku harus mencari jalan lain.

 

Dan justru dari situlah perjalanan terasa lebih menarik.

 

Aku melewati jalan-jalan kecil di antara pemukiman warga, melewati jembatan yang berdiri di atas jalur kereta api, menyusuri jembatan kecil di atas sungai, lalu kembali bertemu dengan jalan utama menuju Stasiun Ciomas.


Jalan Kecil yang Menyimpan Keindahan

Jika boleh menggambarkan, perjalanan menuju Stasiun Ciomas menjadi salah satu bagian favoritku. Bukan karena jalannya besar atau mulus seperti jalan perkotaan.


Justru sebaliknya.

 

Aku melewati jalan yang naik turun, melewati hamparan sawah dengan pola terasering, perkebunan warga yang rindang, serta udara yang terasa lebih segar dibanding kawasan kota.

 

Ada sensasi sederhana ketika motor berjalan perlahan melewati jalan kecil yang diapit pepohonan. Seolah perjalanan itu sendiri adalah tujuan. Oh ya di ujung jalan kita akan bertemu dengan jembatan kecil yang hanya cukup dilalui satu sepeda motor. Di sebalik jembatan itu, berdiri sebuah stasiun yang masih setia dalam status non-aktifnya. Stasiun Ciomas.


Jembatan itu sederhana, tapi entah kenapa memiliki daya tarik tersendiri. Mungkin karena suasananya yang tenang, mungkin juga karena ia menjadi pintu masuk terakhir menuju Stasiun Ciomas.


Jembatan ikonik satu motor dekat Stasiun Ciomas


 

Di dekat jembatan itu terdapat sebuah warung kecil yang menjual minuman botolan, air mineral, dan beberapa makanan ringan. Sebuah warung sederhana yang menjadi saksi kecil dari perjalanan warga sekitar.


Setelah melewati jembatan, melewati pemukiman warga sebentar, akhirnya aku sampai.


Warung kecil di ujung jalan dekat jembatan

 

Stasiun di Tengah Lembah

Secara geografis, Stasiun Ciomas berada di sebuah dataran lembah yang relatif landai, berada di antara perbukitan kaki Gunung Salak dan kawasan bergelombang menuju arah Gunung Pangrango.

 

Jalur kereta membentang dari arah barat laut menuju tenggara. Ke arah barat laut jalur mengarah menuju Batutulis dan Kota Bogor, sedangkan ke arah tenggara rel membawa perjalanan menuju Maseng, Cigombong, hingga Sukabumi.

 

Di sisi timur hingga timur laut terdapat area lembah dan aliran sungai yang menjadi bagian dari kawasan aliran Sungai Cisadane. Sementara sisi barat dan barat daya didominasi perbukitan hijau yang perlahan naik menuju kaki Gunung Salak.

 

Maka tidak mengherankan jika suasana di sini terasa berbeda. Stasiun ini bukan berada di atas bukit, bukan pula berada di dasar lembah yang sempit.

 

Ia seperti duduk tenang di sebuah ruang alami yang diapit perbukitan. Dan mungkin itu alasan kenapa suasananya begitu menenangkan.

 

Stasiun di tengah lembah


Stasiun yang Sunyi Namun Seolah Baru

Setibanya di Stasiun Ciomas aku memarkirkan motor jauh dari rel kereta api pada sebuah jalan beton yang panjangnya tak lebih dari 5 meter, sepertinya beton ini menjadi titik awal pembangunan jalan beton di jalur ini.

 

Kesan pertamaku terhadap stasiun ini ialah, stasiun ini menyajikan kesan yang cukup kontras, di mana ia di bangun di pelosok, kondisinya sepi tak ada hiruk-pikuk layaknya stasiun pada umumnya, tak ada penjual tiket, bahkan tak ada yang menjadi penjaga di stasiun ini, entah tak ada atau memang aku yang tak menjumpainya.

 

Namun di sisi lain, bangunan stasiun terlihat cukup terawat. Atap peron, bangunan utama, serta beberapa bagian fasilitas tampak seperti belum lama mengalami pembaruan.


Hal yang paling terasa justru bukan aktivitas kereta, melainkan kehidupan kecil di sekitarnya. Beberapa anak bermain di area parkir stasiun. Di dalam ruang utama pun terdengar suara anak-anak yang sedang bermain. Beberapa truk terlihat terparkir.

 

Dan karena stasiun ini belum memiliki pagar penuh, area rel masih digunakan sebagian warga sebagai jalur alternatif menuju lingkungan sebelah.



Roti Gambang, Rel, dan Sepuluh Menit yang Berarti 

Aku kemudian duduk sebentar di peron pertama. Tidak banyak yang kulakukan. Hanya memandang sekitar. Melihat bukit, pepohonan, rel kereta yang membentang, serta suasana stasiun yang sepi dan sejuk.

 

Sambil menikmati roti gambang dari Tan Ek Tjoan yang legendaris itu, aku mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi.

 

Sebagai seorang desainer grafis, aku terbiasa memperhatikan detail visual. Dan tempat seperti ini menarik perhatianku dengan caranya sendiri.

 

Bukan melalui bangunan megah. Bukan melalui warna-warna mencolok. Tetapi melalui komposisi alami: hijau pepohonan, garis rel, bentuk bukit, dan ruang kosong yang luas.

 

Kadang inspirasi memang datang dari tempat yang tidak kita duga.

 

Kereta yang Datang dari Keheningan

Puas mengamati sekitar dan mengambil gambar, aku memutuskan untuk balik kanan alias pulang, sesingkat itu. Iya, kamu tak salah baca, mungkin aku hanya berdiam sekira sepuluh menitan saja.

 

Lalu aku berjalan menyusuri rel kedua di mana kereta arah Kota Bogor menuju.

 

Saat berjalan menyusuri area rel untuk kembali, aku tiba-tiba mendengar suara kereta dari kejauhan.

 

Suara roda yang beradu dengan rel semakin jelas memecah keheningan. Aku menoleh. Sebuah kereta terlihat datang menuju arahku. Dengan cepat aku menjauh dari jalur rel dan memberi ruang. Saat kereta lewat aku sempat merekam mengabadikan momen kereta berjalan ke arah Bogor Kota.

 

Ketika kereta melintas, aku sempat merekam momen tersebut sebagai penutup kecil dari kunjungan singkatku. Sebuah kejadian sederhana, tapi justru menjadi penutup manis.





Pulang dengan Baterai dan Pikiran yang Terisi

Aku menyalakan kembali sepeda motor listrikku, dan beranjak pulang, setelah melewati jembatan kecil yang aku anggap ikonik ini aku menyempatkan diri untuk mampir membeli sebuah minuman botolan sekedar melepas dahaga kecilku. Juga tak lupa mengambil beberapa gambar seperlunya.



Perjalanan pulang akan menjadi masalah jika baterai sepeda motor listrikku habis, maka aku menyempatkan diri untuk mampir mengisi kembali daya listrik sepeda motorku di Polytron Service Center di jalan Sukasari Kota Bogor.

 

Perasaanku hari itu cukup lega, menuntaskan rasa penasaranku yang aku pendam sejak sebulan sebelumnya akan sebuah spot hidden gem yang kudapati ketika menjelajah di platform berbagi video ternama; Youtube.


Hari itu aku pulang dengan perasaan cukup lega. Bukan karena berhasil melakukan perjalanan jauh, bukan pula karena menemukan tempat wisata baru, tetapi karena berhasil menuntaskan rasa penasaran yang sudah kusimpan sejak sebulan sebelumnya.

 

Kadang kita tidak membutuhkan perjalanan besar untuk menemukan ketenangan. Terkadang cukup mengendarai motor, melewati jalan yang belum pernah kita lalui, melihat pemandangan sederhana, lalu duduk sebentar di sebuah tempat yang sunyi.

 

Dan hari itu, Stasiun Ciomas mengingatkanku bahwa perjalanan bukan hanya tentang tujuan, tetapi juga tentang bagaimana kita memberi waktu untuk kembali bertemu dengan diri sendiri.


Salam Hangat

Komentar